ber Misi Konservasi di Lereng Ijen dengan Berjalan Offroad

Pagi itu Sabtu, 23 Oktober 2010 Supporter ProFauna dari berbagai kalangan mulai dari murid TK tingkat A hingga Pekerja,  beserta 5 orang Staf ProFauna dan 2 orang Volunterr dari Canada dan Hongkong meluncur menuju Perkebunan Kopi Kayumas Afdeling Plampang yang terletak disebelah timur kota Situbondo untuk melakukan Penyuluhan Hutan dengan Pemutaran Film Lutung & Hutan dilanjutkan WAW (Wild Animal Watching) di keesokkan harinya.

Menempuh aneka medan perjalanan, aspal, berbatu hingga berlumpur di tengah hutan Pegunungan Ijen dan Kebun Kopi yang nampak sudah berbunga. Di tengah perjalanan nampak sekelompok Lutung Jawa bersama anaknya melompat dari pohon satu ke pohon lain setelah melihat mobil kami melintas di jalan berlumpur ini,tetapi tak menyurutkan para Supporter untuk melakukan misi konservasi dengan para penduduk di desa Plampang yang mayoritas bekerja sebagai karyawan kebun kopi di Perkebunan Kopi Kayumas.

Sabtu malam, tiba di perkampungan penduduk desa Plampang kami langsung mempersiapkan peralatan untuk melakukan penyuluhan dengan Pemutaran Film Lutung & Hutan, penduduk yang mayoritas ber suku  Madura ini sangat antusias dengan pemutaran film ini, bagaimana tidak sebagaian besar pekerjaan mereka adalah karyawan Kebun Kopi yang berbatasan langsung dengan Perhutani dan di batasi dengan hutan yang masih alami yang merupakan habitat Lutung Jawa dan 60 spesies bahkan lebih burung – burung kecil yang ada di hutan ini.  Mereka menyadari bahwa keberadaan Lutung Jawa sangat berarti bagi hutan di sekitar begitu juga hutan juga sangat berarti bagi mereka dan terutama bagi satwa liar di dalamnya.

Keesokkan harinya,Minggu  pukul 06.00 kita berencana untuk melakukan pengamatan satwa liar di alam, tetapi cuaca tidak mendukung kami untuk melakukan kegiatan ini sepanjang pagi hujan sudah turun, kami memutuskan untuk kembali ke kota sambil melakukan pengamatan satwa liar saat perjalanan, sebelum kami meninggalkan desa Plampang, Arif Rahman (Maman) Supporter asal Probolinggo yang merupakan juga staff PTPN 12 Perkebunan kopi ini selalu melakukan kegiatan WAW memberi keterangan satwa apa saja yang ada di hutan sekitar kebun kopi ini terdapat 60 Jenis burung, beberapa kelompok Lutung Jawa, Tupai, Kijang, Kucing Hutan, Babi Hutan, bahkan Macan Tutul. Setelah member keterangan, kami menuju kota kembali melewati jalanan berlumpur dan sekitar kita hanya terdapat hutan, saat perjalanan pulang tampak 8 kelompok Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), dan terhibur dengan 12 ekor Alap – alap Nippon (Accipter gularis) sedang bersoaring melakukan migrasi dari Jepang menuju Australia, selain itu juga bertemu dengan burung – burung kecil seperti: Elang Ular Bido (Spilornis cheela), Ayam Hutan (Gallus varius), Sepah Gunung (Pericrocotus miniatus), Cucak Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Sigunting Hitam(Dicrurus macrocercus), Julang Emas (Aceros undulatus), Bentet Kelabu (Lanius schach), Srigunting Kelabu (Dicrurus leucophaeus), Sepah kecil (Pericrocotus ignaetus), dan Caladi Ulam (Dendrocopus macei), ini hanya sebagaian kecil dari spesies burung yang ada di hutan lereng pegunungan Ijen.

Malang Selatan Gak Hanya Menyimpan Misteri

Siapa yang tidak mengenal Kota Malang, mulai dari wisata kulinernya hingga tim sepakbola AREMA yang mempunyai eksistensi di kota ini. Begitu juga dengan warganya yang setia mendukung tim ini. Tak hanya warga kota saja, tetapi hingga pelosok Malang Selatan tetap mendukung tim nya.

Malang Selatan yang terkenal dengan daerah perbukitan ternyata juga menyimpan wisata bahari yang konon menyimpan banyak misteri seperti tempat hunian Ratu Nyi Roro Kidul,  di balik bukitnya yang tak kalah indah nya dengan pantai yang ada di Garut bahkan ibu kota sekalipun.

Perjalanan diawali di Pantai Bajul Mati yang terletak di Malang Selatan tepatnya di Kecamatan Gedangan 58 Km arah selatan kota Malang. Pantai ini landai dan tidak berkarang bahakan terdapat karang / pulau kecil tepat berada di tengah laut dan mempunyai 2 muara sungai, pantai ini sangat cocok sekali untuk berkemah karna garis pantai yang panjang dan luas, jika ingin mancing, dapat melalui tebing di sebelah kanan pantai ini.

Pantai Bajul Mati

Perjalanan dilanjutkan ke arah sebelah kiri pantai bajul mati, yaitu Goa Cina. Sekilas saya berpikir tidaka pantai di daerah ini dan hanya Gua yang tersedia disini, ternyata panorama yang disuguhkan sangat indah dan layak utnuk dinikmati bahkan sebagai background foto untuk pre wedding. Pantai yang dilengkapi dengan pasir putihnya dan yang halus lenkap dengan Guanya disebelah kanan pantai ini. Untuk dapat berhunting mengetahui apa itu Gua Cina cukup dengan jalan kaki hanya 300 km dari pantai. Gua yang menyerupai karang dengan kedalaman kira-kiran 4 meter lengkap dengan stalaktit gua yang tidak begitu indah (menurut saya) tetapi dari itu Anda dapat melihat keindahan pantai dari atas  gua, sungguh indah dan mengingatkan kita kepada ciptaan Allah SWT. Tak lama kemudian hujan rintik pun turun kita bergegas turun dari gua dan melajutkan perjalanan.

Pantai Goa Cina

Stalaktit Goa Cina

Perjalanan kali ini di lanjutkan ke Pantai Sendang Biru, pantai yang menjadi pusat pelelangan ikan nelayan dan sebagai tempat tujuan wisata bahari dan Pulau Sempu nya.  Pantai Sendang Biru  juga menydiakan ikan bakarnya yang khas dan pantas untuk dinikmati.

Sebenarnya masih banyak pantai di wilayah malang selatan yang dikunjungi sperti Pantai Ngantep, Pantai Tamban, Pantai Sipelot. Tetapi waktu jualah yang membatasi. Sampai jumpa di ekspedisi Pantai Selatan selanjutnya.

“Gunungan” dalam Pewayangan

Dalam setiap pergelaran wayang kulit selalu ditampilkan gunungan misalnya dalam wayang purwa, wayang gedog, wayang krucil, wayang golek, wayang suluh dan sebagainya.

Gunungan bagian muka menyajikan lukisan bumi, gapura dengan dua raksasa, halilintar, hawa atau udara, dan yang asli ada gambar pria dan wanita. Tempat kunci atau umpak gapura bergambarkan bunga teratai, sedang diatas gapura digambarkan pepohonan yang banyak cabangnya dengan dedaunan dan buah- buahan. Di kanan-kiri pepohonan terlihat gambar harimau, banteng, kera, burung merak, dan burung lainnya. Di tengah-tengah pepohonan terdapat gambar makara atau banaspati ( wajah raksasa dari depan).

Fungsi dari gunungan ada 3 yakni:
1. Dipergunakan dalam pembukaan dan penutupan, seperti halnya layar yang dibuka dan ditutup pada pentas sandiwara.
2. Sebagai tanda untuk pergantian jejeran (adegan/babak).
3. Digunakan untuk menggambarkan pohon, angin, samudera, gunung, guruh, halilintar, membantu menciptakan efek tertentu (menghilang/berubah bentuk).

Disebut gunungan karena bentuknya seperti gunung yang berisi mitos sangkan paraning dumadi, yaitu asal mulanya kehidupan ini dan disebut juga KAYON.

Kata kayon melambangkan semua kehidupan yang terdapat di dalam jagad raya
yang mengalami tiga tingkatan yakni:
1. Tanam tuwuh (pepohonan) yang terdapat di dalam gunungan, yang orang mengartikan pohon Kalpataru, yang mempunyai makna pohon hidup.
2. Lukisan hewan yang terdapat di dalam gunungan ini menggambarkan hewan- hewan yang terdapat di tanah Jawa.
3. Kehidupan manusia yang dulu digambarkan pada kaca pintu gapura pada kayon, sekarang hanya dalam prolog dalang saja.

Makara yang terdapat dalam pohon Kalpataru dalam gunungan tersebut berarti Brahma mula, yang bermakna bahwa benih hidup dari Brahma. Lukisan bunga teratai yang terdapat pada umpak (pondasi tiang) gapura, mempunyai arti wadah (tempat) kehidupan dari Sang hyang Wisnu, yakni tempat pertumbuhan hidup.

Dalam kayon terdapat ukiran-ukiran atau gambar yang diantaranya :

  1. Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga melambangkan suatu rumah atau negara yang di dalamnya ada kehidupan yang aman, tenteram dan bahagia.
  2. Dua raksasa kembar lengkap dengan perlengkapan jaga pedang dan tameng. diinterprestasikan bahwa gambar tersebut melambangkan penjaga alam gelap dan terang
  3. Dua naga kembar bersayap dengan dua ekornya habis pada ujung kayon.
  4. Gambar hutan belantara yang suburnya dengan kayu yang besar penuh dengan satwanya.
  5. Gambar ilu-ilu Banaspati melambangkan bahwa hidup di dunia ini banyak godaan, cobaan, tantangan dan mara bahaya yang setiap saat akan mengancam keselamatan manusia.
  6. Pohon besar yang tinggi dibelit ular besar dengan kepala berpaling kekanan.
  7. Dua kepala makara ditengah pohon melambangkan manusia dalam kehidupan sehari mempunyai sifat yang rakus, jahat seperti setan.
  8. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas pohon dan dua ekor ayam hutan sedang bertengkar diatas pohon, macan berhadapan dengan banteng.

Lambang binatang yang menggambarkan tingkah laku manusia.

Kebo = pemalas,

Monyet = serakah,

Ular = licik,

Banteng = lambang roh , anasir tanah , dengan sifat kekuatan nafsu Aluamah

Harimau = lambang roh , anasir api dengan sifat kekuatan nafsu amarah, emosional, pemarah

Naga = lambang Roh , anasir air dengan sifat kekuatan nafsu sufiah

Burung Garuda= lambang Roh , anasir udara dengan sifat kekuatan

nafsu Muthmainah.

Gunungan atau kayon merupakan lambang alam bagi wayang, menurut kepercayaan Hindu, secara makrokosmos gunungan yang sedang diputar-putar oleh sang dalang, menggambarkan proses bercampurnya benda-benda untuk menjadi satu dan terwujudlah alam beserta isinya. Benda-benda tersebut dinamakan Panca Maha Bhuta, lima zat yakni: Banu (sinar-udara-sethan), Bani (Brahma-api), Banyu (air), Bayu (angin), dan Bantala (bumi-tanah).

Gunungan digambarkan sebagai gunung, pohon, batu, hutan, angin, api, air, pokoknya yang kasat mata. Tapi juga dapat diartikan sebagai awal dan akhir kehidupan. Pada hakikatnya Gunungan memuat ajaran agar manusia meneladani alam dan bertindak selaras dengan alam.

Jawa memang menyimpan berbagai macam budaya yang beragam dan menyimpan berbagai makna yang terkandung dalam setiap itemnya, bahkan secara tidak kita sadari sesuatu yang kita pegang sekarangpun itu juga mengandung makna filosofis yang sangat besar jika kita mau mangkaji lebih dalam. Dalam permainan wayang ini saya sedikit banyak mengetahui tantang apa makna yang terdapat dalam permainan wayang. Dari segi bentuk maupun nilai yang terkandung dalam wayang dan dari gambar yang ada di dalamnya.

tak perlulah aku keliling DUNIA (kata Gita Gutawa).

Rangkong Sulawesi ( Aceros cassidix)

RANGKONG TERCANTIK

Rangkong Sulawesi memiliki tubuh dan sayapnya berwarna hitam, ekor putih, memiliki sebuah tanduk yang besar diatas paruh,warna merah pada jantan dan kuning pada betina. Paruh berwarna kuning, memiliki kantung biru pada tenggorokkan dengan sebuah garis gelap melintanginya. Leher sang jantan berwarna kuning-jingga, sedangkan betina lehernya tetap berwarna hitam, warna leher dari anak rangkong yang baru keluar dari sarangnya, berwarna kekunigan seperti bapaknya. Leher itu akan berubah menjadi hita, atau semakin kuning – jingga tergantung jenis kelaminnya.

Penganut Paham Monogami

Rangkong Sulawesi (Aceros cassidix) berpaasangan hanya dengan satu pasangan seumur hidupnya. Pasangan rangkong memilik sarang sendiri – sendiri bersama anaknya. Selama masa bereproduksi, sang ajantan dengan setia bolak – balik ke sarang memeberi ransum makanan untuk betina yang setia di dalam lubang. Pada masa tidak bereproduksi, mereka selalu berpasangan walau seringkali bergerombol dengan teman – temanya di pohon.

Kepakan Yang Menggelegar

Burung ini merupakan burung terbesar diantar 54 jenis rangkong yang lain di daerah tropis Asia dan Afrika. Burung ini memiliki bobot tubuh sekitar 2,5 kg denagan rentang sayap mencapai 1 m. Kepakan syapnya ketika akan terbang seperti suara helikopter yang lepas landas, dan ketika gliding atau mendarat menimbulkan suara gemuruh yang khas seperti pesawt tempur. ketika terbang bunyi sayapnya dapat terdenagr sampai 300 meter.

Penjelajah Ulung dan Pemencar Biji

Saat tidak berproduksi, rangkong dapat berkelana mencari makan rata- rata 10,5 km per hari, bahkan ada yang mencapai jarak 30 km. Daerah jelajahnya juga bervariasi antara 39,8 sampai 55,8 km. Saat itu pula, rangkong ‘melaksanakan’ tugasnya sebagai penyebar benih.

Biji dari buah yang dimakan rangkong tidak hancur. Hal itu memungkinkan bijij dapat disebarkan cukup jauh dari induknya. Jika rangkong sudah mulai mengepakkan sayapnya lalu meluncurkan menyusuri hutan, maka bijij dari buah yang dimakannya akan disebarkan cukup jauh dari induknya. Sehinnga regenerasi dan reforestasi hutan dapat berjalan secar ilmiah.

Meskipun statusnya adalah satwa yang dilindungi masih banyak perburuan yang dilakukan, baik untuk dimakan ataupun asesoris. Kepala dan bulu rangkong pun banyak digunakan sebagai asesoris tarian khas Sulawesi Utara.

Hal itu bisa mengganggu jumlah populasinya di alam, So..tentunya sudah kewajiban kita untuk menjaga kelestariannya dan fungsinya di alam.

Gejolak ‘Euthanasia’ I

Diera jaman modern yang sekarang ini euthanasia atau yang biasa disebut dengan suntik mati masih menjadi pro kontra antara dunia kedokteran bahkan di kalangan pemuka agama.  Euthanasia sendiri mempunyai arti praktek pencabutan kehidupan manusia atau hewan melalui cara yang dianggap tidak menimbulkan rasa sakit atau menimbulkan rasa sakit yang minimal, biasanya dilakukan dengan cara memberikan suntikan yang mematikan.

Macam- macam Euthanasia

1. Euthanasia aktif adalah tindakan sengaja yang dilakukan oleh medis untuk mengakhiri hidup pasiennya. Tindakan ini dilakukan untuk mempercepat proses kematian, baik dengan memberikan suntikan ataupun melepaskan alat- alat pembantu medika, seperti melepaskan saluran zat asam, melepas alat pemacu jantung dan sebagainya. Yang termasuk tindakan mempercepat proses kematian disini adalah jika pasien berdasarkan ukuran dan pengalaman medis masih menunjukkan harapan hidup.

2. Euthanasia Pasif adalah ketiadaan penanganan yang seharusnya diberikan oleh petugas medis untuknya, atau suatu tindakan membiarkan pasien atau penderita yang dalam keadaan tidak sadar (comma), karena berdasarkan pengalaman maupun ukuran medis sudah tidak ada harapan hidup atau tanda-tanda kehidupan tidak terdapat lagi padanya, mungkin karna salah satu organ pentingnya sudah rusak atau lemah

Euthanasia ini dapat dilakukan kepada hewan bahkan manusia tetapi harus dengan aturan dan kode etik kedokteran. Disisi lain peraturan ini juga tersurat di kitab – kitab 5 agama yang ada di Indonesia. Berikut penjelasannya.

Berdasarkan Agama Islam

Agama Islam sudah jelas melarang untuk melakukan euthanasia ini sesuai dengan yang tertera di Al-Qur’an ”janganlah membunuh dirimu sendiri, karena sesungguhnya Allah maha Penyayang kepadamu. ( Q.S. al- Nisa 4:29 )

Berdasarkan Agama Budha

kasus euthanasia seharusnya tidak boleh dilakukan karena merupakan suatu pembunuhan yang menyebabkan karma buruk. Agama Buddha menanggapi masalah euthanasia antara setuju dengan tidak setuju. Alasan tidak boleh dilakukannya euthanasia adalah kita sebagai umat Buddha tidak boleh membunuh, adanya kemungkinan untuk sembuh bagi orang yang menderita penyakit maupun yang sedang dalam keadaan koma.

Berdasarkan Agama Kristen

Iman Kristen, secara tegas menolak euthanasia aktif ini (entah suntik mati atau bunuh diri berbantuan). Alasannya adalah bahwa Tuhanlah yang memberikan kepada manusia nafas kehidupan (Kej 2:7), maka Tuhan jugalah yang berhak memanggilnya kembali. Hidup dan mati adalah hak prerogatif Tuhan sebagai Sang Khalik. Alasan-alasan seperti rasa kasihan melihat penderitaan pasien, alasan ekonomi, atau kerepotan mengurus pasien, adalah tidak bisa mengesampingkan hak prerogatif Allah tersebut. Euthanasia aktif pada hakikatnya sama dengan membunuh (menghilangkan nyawa) pasien, sekalipun dengan dalih yang argumentatif.
Dan manusia sebenarnya adalah mahluk yang unik. Beda dengan binatang; tidak ada keberatan untuk mengakhiri “penderitaan” yang terjadi pada binatang. Tapi manusia tidak pantas diperlakukan dengan cara demikian

Berdasarkan Agama Hindu

Pandangan agama hindu terhadap euthanasia adalah didasarkan pada
ajaran tentang karma, moksa dan ahimsa. Bunuh diri adalah suatu erbuatan yang terlarang di dalam ajaran hindu dengan pemikiran bahwa perbuatan tersebut dapat menjadi suatu
faktor yang mengganggu pada saat reinkarnasi oleh karena
menghasilkan “karma” buruk.

Berdasarkan Agama Katolik

dengan sengaja mengakhiri hidup sendiri adalah bunuh diri dan merupakan penolakan terhadap rencana Allah. Pula, melakukan percobaan atas kehidupan atau membunuh seorang yang tak bersalah merupakan suatu tindak kejahatan. Oleh karena alasan-alasan di atas, Konsili Vatikan II mengutuk, “apa saja yang berlawanan dengan kehidupan sendiri, misalnya bentuk pembunuhan yang mana pun juga, penumpasan suku, pengguguran, eutanasia atau bunuh diri yang disengaja….” (Gaudium et Spes, No. 27).

Bahakan dari kalangan pemerintahan juga menolak perbuatan euthanasia, tetapi ini mengatur euthanasia terhadap Manusia. Bagaimana dengan hewan?

Mobil Baca : Tak Sekedar Edukasi Media Alam

Siapa bilang pelestarian alam hanya bisa dilakukan dengan menanam pohon, membersihkan sungai, dan berhenti mengeksploitasi satwa liar? Ternyata kita juga bisa melestarikan alam dari halaman rumah atau sekolah lho, yaitu melalui kegiatan Mobil Baca P-WEC.

Supporter siap membantu kegiatan ini

Kegiatan mobil baca adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh tim edukasi P-WEC sekali setiap bulan, biasanya pada hari minggu dan berlokasi di halaman rumah atau SD yang ada di sekitar P-WEC. Kegiatan ini bertujuan untuk mendidik anak-anak, sebagai generasi penerus di masa depan, tentang dasar-dasar pelestarian alam. Tentu saja pengetahuan itu diberikan secara tidak langsung menyesuaikan dengan usia dan tingkat pendidikan. Secara santai dan mengibur -baik melalui percakapan, buku-buku cerita, maupun kuis- tim edukasi P-WEC yang dibantu oleh supporter perlahan-lahan menggugah rasa ingin tahu anak-anak tentang alam.

Volunteer dari UK tak mau ketinggalan

Biasanya, tim P-WEC datang ke sekolah pada hari minggu pagi. Saat itu, dapat dipastikan anak-anak sudah mandi dan beramai-ramai berkumpul di pinggir jalan, menunggu datangnya seekor lutung. Lhoh, kok lutung? Iya, untuk menyemarakkan suasana dan menghibur anak-anak, tim P-WEC selalu membawa maskot mobil baca, yaitu si lutung. Begitu si lutung ini keluar dari mobil, langsung saja si lutung diserbu oleh anak-anak kecil yang berebut ingin memeluknya.

Sebagai pemanasan, anak-anak akan diberi permainan terlebih dahulu. Tentu saja, permainan yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam, misalnya ”Hutan dan Pemburu” atau ”Kelelawar dan Ngengat”. Dengan demikian, sambil tertawa dan berlarian pun anak-anak dengan sendirinya akan menyerap konsep kehidupan di alam, terutama tentang hubungan antar makhluk hidup. Si lutung, yang sebenarnya hanya seorang staff atau supporter yang mengenakan kostum, juga tak kalah aktifnya berlarian dan melompat2 bersama anak-anak dan tim mobil baca agar suasana lebih riuh lagi.

SiMon selelu setia mendampingi adik -adik tepi hutan

Baru setelah sedikit berkeringat, buku-buku bacaan mulai digelar. Buku-buku yang disuguhkan sebagian besar adalah fabel yang pasti disukai oleh anak-anak, apalagi buku-buku tersebut memiliki ilustrasi yang menarik sehingga anak-anak pun dapat membaca dengan penuh minat dan konsentrasi. Selain buku-buku fiksi, ada juga buku-buku tentang pengetahuan alam, seperti buku yang berisi seluk-beluk tentang reptil, hutan, atau air. Tim P-WEC dan supporter pun tidak tinggal diam. Mereka ikut bergabung dengan anak-anak, kadang membacakan cerita untuk anak-anak yang belum lancar membaca, berbincang-bincang tentang isi buku, dan tak lupa si lutung pun ikut duduk manis mendengarkan anak-anak yang mau membacakan cerita untuknya.

Edukasi P-WEC

Setiap perjuangan pasti menemui kesulitan. Tidak jarang kami harus ekstra bersabar menghadapi anak-anak yang mengganggu temannya, ”mengeroyok” si lutung, atau tidak punya motivasi untuk membaca. Tapi namanya juga anak-anak, kalau terus-menerus diajak dan melihat sebagian besar temannya membaca, lama kelamaan mereka juga ikut duduk dan tenggelam dalam petualangan ”Kancil dan Buaya”.

Setelah cukup lama membaca, tibalah waktu yang dinanti-nantikan: kuis. Beberapa anak yang mau menceritakan kembali buku yang telah dibaca akan maju dan bercerita di depan teman-temannya, dan sebagai penghargaan mereka akan mendapat hadiah berupa alat tulis dari tim P-WEC. Tentu saja ada yang kecewa karena tidak terpilih untuk maju, pasalnya hampir semua anak mengacungkan tangan ketika ditanya, tapi hanya 2-3 saja yang akan terpilih. Bukan itu saja, selanjutnya kakak-kakak dari P-WEC dan ProFauna akan memberikan pertanyaan kepada adik-adik. Siapa yang bisa menjawab, akan mendapat hadiah. Pertanyaannya tentu saja sederhana dan berkaitan dengan hutan dan satwa liar, dan lagi-lagi sulit sekali memilih siapa yang berhak menjawab dan mendapat hadiah karena puluhan tangan langsung teracung saat pertanyaan diberikan, termasuk tangan si lutung. Setelah 4-5 pertanyaan berhasil dijawab, saatnya bagi tim mobil baca untuk berkemas. Tak lupa semuanya berfoto bersama si lutung sebelum pulang dengan membawa pengetahuan baru tentang alam.

yang tua yang muda tak mau ketinggalan

Melestarikan alam memang tidak harus selalu dilakukan secara langsung. Salah satu hal terpenting untuk mewujudkan lingkungan yang lestari adalah dengan membangun pola pikir yang menghormati alam. Dengan mendidik anak-anak untuk menghargai alam dan seisinya, diharapkan mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang peduli pada lingkungan, menyebarkan pemahaman itu pada orang-orang di sekitar mereka, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik di masa depan.

Disadur dari swastimukti.blogspot.com

Weekenders at Jogjakarta

Kota yang banyak menyimpan kebudayaan Jawa, dan merupakan pecahan dari kerajaan Mataram dan sempat menjadi ibukota negara RI dan diberi gelar Daerah Istimewa ini menyimpan berjuta – juta sejarah baik Kuno maupun modern. Kota dengan berjarak tempuh 8 jam dari kota Malang ini sangat mudah di jangkau oleh berbagai macam kendaraan.

Setelah tiba di kota ini untuk soal penginapan jangan kuatir untuk merogoh kocek dengan harga murah disini banyak tersedia penginapan murah berkisar 50.000 – 85.000 saja di daerah Sosrowijayan tepat bersebelahan dengan kawasan Malioboro, kawasan surga belanja batik dan Pasar Beringharjo, dijamin harga relatif murah daripada beli dikota Anda.

Sosrowijayan

Surga Batik Malioboro dan Pasar Beringharjo

Kawasan dataran tinggi di kota Jogjakarta yaitu KALIURANG  yang  dikunjungi banyak orang dan masih merupakan di kawasan Taman Nasiona Gunung Merapi yang merupakan habitat dari Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicuaris). Disini anda dimanjakan dengan perbukitan yang mengelilingi  Gunung Merapi tampak puncak Gunung Merapi yang menjulang dan masih mengeluarkan asap tebalnya.

Selayang Pandang di perbukitan Merapi

Di kawasan Kaliurang Barat terdapat Museum Budaya Jawa yang sangat private dan tidak di publikasikan disebut Museum Ulen Sentalu.  Disini terdapat berbagai macam kebudayaaan Jawa Jogjakarta dan Jawa Solo. dan menyimpan berbagai alat musik gamelan, foto, batik kuno, pemimpin Jogjakarta dan Solo di masa lampau, arca dan tak ketinggalan makna dari sebuah tarian tradisonal dan arti dari hiasan pengantin.

Museum Ulen Sentalu

Masih di Jogja, jangan ketinggalan juga untuk rekomendasi tempat nongkrong favorit pemuda jogja di Angkringan Tugu, tepat berada di depan Stasiun Jogjakarta. Minuman khas disana Kopi Joss (kopi hitam dan didalamnya diberi arang) jangan lupa juga Oseng –  oseng Mercon yang puedas sesuai dengan namanya yaitu ‘mercon..huhahuhahuhahuhahuha.

Angkringan Tugu paling top di kota ini

Jika anda ingin menikmati suasana pedesaan jangan khawtir masih banyak tempat – tempat pedesaan disini salahsatunya di Ngaglik, Sleman. Dan jika Anda ingin yang vegetarian, Jejamuran ada disini…Jangan Sampai Ketinggalan!!

Sungai irigasi di sekitar persawahan Ngaglik, Sleman

Vegetarian Rest, Jejamuran

“Teletubbies” Di Gunung Bromo

Siapa yang tidak mengenal Gunung Bromo yang terkenal akan gunung berapi yang masih aktif.

Gunung Bromo (dari bahasa Sansekerta/Jawa Kuna: Brahma, salah seorang Dewa Utama Hindu), merupakan gunung berapi yang masih aktif dan paling terkenal sebagai obyek wisata di Jawa Timur.

Gunung Bromo

Bromo mempunyai ketinggian 2.392 meter di atas permukaan laut itu berada dalam empat wilayah, yakni Kabupaten Probolinggo, Pasuruan, Lumajang, dan Kabupaten Malang. Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Bukit Teletubbies Gunung Bromo & Gunung Smeru

Untuk mencapai ke lokasi ini dapat di tempuh melalui jalur Malang, Nongkojajar, dan Probolinggo, dan lebih baik menggunakan Jeep karena medan yang berat berupa padang pasir yang lembut.

Hamparan Padang Pasir Gunung Bromo

Jangan disiakan – siakan untuk pergi ke Gunung Bromo ini pesona Sunrise yang menarik pandangan saat kita berada di sana. Cukup dengan kendaraan menuju Penanjakkan Anda disuguhkan betapa indahnya kekuasaanNya.

Indahnya Sunrise di Gunung Bromo

Gunung ini juga dikeramatkan oleh warga di sekitar gunung ini orang – orang menyebutnya suku “Tenggger” yang mayoritas menganut agama Hindu yang dilaksanakan setahun sekali di bulan Kesodo setiap bulan purnama.

Memang harus benar – benar mengunjungi disini jika Anda bepergian ke Kota Malang, Pasuruan maupun Probolinggo INGAT jaket tebal untuk melindungi dari dinginnya udara sekitar Gunung Bromo.

Burung dalam Mitologi Jawa & Bali

Pada budaya Jawa dan Bali dikenal sistem waktu Wuku. Wuku adalah nama sebuah siklus waktu yang berlangsung selama 30 pekan. Satu pekan atau minggu terdiri dari tujuh hari sehingga satu siklus Wuku terdiri dari 210 hari.

Ide dasar perhitungan menurut Wuku ini adalah bertemunya dua hari dalam sistem pancawara (pasaran, 5 hari) dan saptawara (pekan, 7 hari) menjadi satu. Dalam satu Wuku, pertemuan antara hari pasaran dan hari pekan sudah pasti.

Setiap Wuku memiliki nama, yang didasarkan suatu kisah kerajaan pimpinan Prabu Watugunung. Namanya dimulai dari istrinya, Dewi Sinta, Dewi Landep, lalu ke-27 anak-anaknya, ditutup Prabu Watugunung sendiri.

Pengetahuan Wuku disimpan dalam bentuk gambar, yang terdiri dari empat komponen utama:
1. Tokoh wuku dan dewa (mahluk berakal)
2. Bumi dan langit (benda alam)
3. Bangunan (benda rekayasa)
4. Tumbuhan dan BURUNG (mahluk hidup)

Setiap wuku, gambar, dan komponennya memiliki makna kosmologi. Jika dijabarkan satu per satu akan sangat panjang dan berubah jadi milist budaya😀 Langsung saja ke bagian komponen burung..

Ada 21 jenis / macam burung di dalam simbol Wuku.
1. Gagak
2. Anis Kembang
3. Manyar
4. Salinditan (Serindit)
5. Branjangan
6. Ayam Hutan
7. Kepodang
8. Betet / Bayan
9. Kulilang (Kutilang)
10. Bido (Elang Bido)
11. Urang-urangan (Raja Udang)
12. Pelatuk Bawang
13. Prijohan (Pipit)
14. Cocak (Merbah)
15. Puter (Dederuk)
16. Prenjak
17. Pelung (Ayam)
18. Gogik (Rangkong)
19. Sepahan (Sepah)
20. Nori (Paruh Bengkok)
21. Gemak

Masing-masing jenis burung memiliki makna. seperti :

Gogik / Rangkong :
– Menggambarkan besar kecemburuan dan kecurigaan
– Makna sepadan : ekspresi kekhawatiran

Wuku yang dengan gambar Gogik yaitu Wuku Wuye dan Watugunung. Wuku ini umumnya menampilkan diri sebagai sosok yang selalu berpikir dan bersikap antisipatif.

Branjangan :
– riang tangan, cepat bekerjanya

Ayam Hutan :
– liar, dicintai oleh para agung, suka tinggal ditempat sunyi

Kepodang :
– cemburuan, tak suka berkumpul dengan orang banyak

Jika ingin tau lebih banyak silahkan cari Informasi di http://nusadwipa.blogspot.com/2008/12/wuku-dan-kelahiran.html

Sumber : Millist SBI

Harimau TSI II Prigen, Terkam Balita

Harimau TSI II Prigen, Terkam Balita

Selasa, 29 Juni 2010 13:48:46 WIB
Reporter : Yatimul Ainun

Malang (beritajatim.com) – Nasib nahas menimpa Ingelica Rosa Nataliya, balita berumur 3,5 tahun, asal Semarang Utara. Ia diterkam harimau saat sedang asyik bermain bersama kedua orang tuanya dan dua saudara kandungnya di Taman Safari Indonesia (TSI) II yang berlokasi di Prigen Kabupaten Pasuruan.

Kejadian tersebut menimpanya anak dari pasangan Petrus Dwidarmanto (47) Dan Widiyastutik Witarso (46) itu, sekira pukul 10.15 WIB, Senin (28/6/2010) tepat di saat berada di areal baby zoo bersama keluarganya.

Dari cerita Petrus Dwidarmanto, bapak dari Ingelica Rosa Nataliyasaat, saat ditemui di rumah sakir Lavalette Kota Malang, akanya itu berjalan hendak akan menuju areal baby zoo. “Sampai dilokasi itu, tiba-tiba ada harimau dari depan yang langsung menerkam, menggigit anak saya itu,” katanya.

Harimau itu,menggigit dibagian dada, kepala bagian belakang, dan pipi sebelah kanan.”Di dadanya ada 4 gigitan, pipi kanan 1 gigitan, kepala belakang ada 1 gigitan. waktu itu memakai baju. Bajunya tidak sampai robek, tetapi ada bekas gigitannya,” terangnya.

Saat itu, harimau itu sudah dipegang dua kiper dengan dua tali. tetapi tetap bergelut dan bahkan satu kiper yang memegangnya itu terjatuh juga. “Lalu baru menerkam anak saya. Ibunya dan saya tidak bisa menerainya. untung saya dan istri saya tidak kena gigit,” katanya dengan wajahterlihat masih syok.

Dari kejadian tersebut, korban langsung dilarikan ke rumah sakit oleh pihak TSI I, tepatnya di rumah sakit di wilayah Sokorejo Prigen Pasuruan. “Namun, rum,ah sakit tersebut disana tidak mampu menanganinya dan diminta rujuk ke rumah sakit Lavalette Kota Malang.

Masuk ke rumah sakit ini kata Petrus Dwidarmanto, sekira pukul 21.00 WIB Senin Malam. “Segala pengobatan anak saya ditangani oleh pihak Taman Safari. katanya sampai sembuh,” katanya.

Ditanya apakah akan melakukan tuntutan kepada pihak TSI? dia menjawab, untuk saat ini masih konsentrasi memikirkan anaknya sembuh. “Saya belum terpikirkan kearah itu. yang jelas, saat ini kondisi anak saya bsudah terlihat baik,” katanya.

Sementara itu, dari pihak TSI II, bagian Marketing, Bagus Setiawan mengatakan, harimau yang menerkamnya itu bernama Oni, berumur bulan, bulunya warna putih. “Saat itu harimau itu hendak berolaraga bersama dua kiper, dan sudah dikat dua tali. namun, nahas, harimau itu langsung lari menerkam korban dan satu kiper terjatuh juga,” katanya.

“Ini sudah musibah. karena bukan kelalaian dari pihak kami. sudah dua kiper yang memegang harimau itu. dan walaupun melihat, anak-anak tidak seperti itu. ini bari kali ini terjadi sejak ada TSI II,” katanya.

lebih lanjut Bagus menegaskan, pihaknya siap menanggung semua pembiayaan selama dilakukan perawan di rumah sakit. “Semunya akan ditanggung pihak kami. saya tegaskan lagi ini adalah murni musibah, kecelakaan. Bukan karena kelalain pihak kami,” katanya. sampai pukul 13.00 WIB, korban masih terbaring di unit rawat anak No II B 10 Rumah Sakit Lavalette Kot Malang.

Para wartawan hanya diperbolekan mengambil gambar korban dari luar ruangan. “Silahkan ambil gambar, waktunya 5 menit ya,” kata salah satu perawat yang berjaga di ruangan tersebut. [ain/kun]

http://www.beritajatim.com/detailnews.php/8/Peristiwa/2010-06-29/67991/Harimau_TSI_II_Prigen,_Terkam_Balita

« Older entries