Mobil Baca : Tak Sekedar Edukasi Media Alam

Siapa bilang pelestarian alam hanya bisa dilakukan dengan menanam pohon, membersihkan sungai, dan berhenti mengeksploitasi satwa liar? Ternyata kita juga bisa melestarikan alam dari halaman rumah atau sekolah lho, yaitu melalui kegiatan Mobil Baca P-WEC.

Supporter siap membantu kegiatan ini

Kegiatan mobil baca adalah kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh tim edukasi P-WEC sekali setiap bulan, biasanya pada hari minggu dan berlokasi di halaman rumah atau SD yang ada di sekitar P-WEC. Kegiatan ini bertujuan untuk mendidik anak-anak, sebagai generasi penerus di masa depan, tentang dasar-dasar pelestarian alam. Tentu saja pengetahuan itu diberikan secara tidak langsung menyesuaikan dengan usia dan tingkat pendidikan. Secara santai dan mengibur -baik melalui percakapan, buku-buku cerita, maupun kuis- tim edukasi P-WEC yang dibantu oleh supporter perlahan-lahan menggugah rasa ingin tahu anak-anak tentang alam.

Volunteer dari UK tak mau ketinggalan

Biasanya, tim P-WEC datang ke sekolah pada hari minggu pagi. Saat itu, dapat dipastikan anak-anak sudah mandi dan beramai-ramai berkumpul di pinggir jalan, menunggu datangnya seekor lutung. Lhoh, kok lutung? Iya, untuk menyemarakkan suasana dan menghibur anak-anak, tim P-WEC selalu membawa maskot mobil baca, yaitu si lutung. Begitu si lutung ini keluar dari mobil, langsung saja si lutung diserbu oleh anak-anak kecil yang berebut ingin memeluknya.

Sebagai pemanasan, anak-anak akan diberi permainan terlebih dahulu. Tentu saja, permainan yang dilakukan selalu berhubungan dengan alam, misalnya ”Hutan dan Pemburu” atau ”Kelelawar dan Ngengat”. Dengan demikian, sambil tertawa dan berlarian pun anak-anak dengan sendirinya akan menyerap konsep kehidupan di alam, terutama tentang hubungan antar makhluk hidup. Si lutung, yang sebenarnya hanya seorang staff atau supporter yang mengenakan kostum, juga tak kalah aktifnya berlarian dan melompat2 bersama anak-anak dan tim mobil baca agar suasana lebih riuh lagi.

SiMon selelu setia mendampingi adik -adik tepi hutan

Baru setelah sedikit berkeringat, buku-buku bacaan mulai digelar. Buku-buku yang disuguhkan sebagian besar adalah fabel yang pasti disukai oleh anak-anak, apalagi buku-buku tersebut memiliki ilustrasi yang menarik sehingga anak-anak pun dapat membaca dengan penuh minat dan konsentrasi. Selain buku-buku fiksi, ada juga buku-buku tentang pengetahuan alam, seperti buku yang berisi seluk-beluk tentang reptil, hutan, atau air. Tim P-WEC dan supporter pun tidak tinggal diam. Mereka ikut bergabung dengan anak-anak, kadang membacakan cerita untuk anak-anak yang belum lancar membaca, berbincang-bincang tentang isi buku, dan tak lupa si lutung pun ikut duduk manis mendengarkan anak-anak yang mau membacakan cerita untuknya.

Edukasi P-WEC

Setiap perjuangan pasti menemui kesulitan. Tidak jarang kami harus ekstra bersabar menghadapi anak-anak yang mengganggu temannya, ”mengeroyok” si lutung, atau tidak punya motivasi untuk membaca. Tapi namanya juga anak-anak, kalau terus-menerus diajak dan melihat sebagian besar temannya membaca, lama kelamaan mereka juga ikut duduk dan tenggelam dalam petualangan ”Kancil dan Buaya”.

Setelah cukup lama membaca, tibalah waktu yang dinanti-nantikan: kuis. Beberapa anak yang mau menceritakan kembali buku yang telah dibaca akan maju dan bercerita di depan teman-temannya, dan sebagai penghargaan mereka akan mendapat hadiah berupa alat tulis dari tim P-WEC. Tentu saja ada yang kecewa karena tidak terpilih untuk maju, pasalnya hampir semua anak mengacungkan tangan ketika ditanya, tapi hanya 2-3 saja yang akan terpilih. Bukan itu saja, selanjutnya kakak-kakak dari P-WEC dan ProFauna akan memberikan pertanyaan kepada adik-adik. Siapa yang bisa menjawab, akan mendapat hadiah. Pertanyaannya tentu saja sederhana dan berkaitan dengan hutan dan satwa liar, dan lagi-lagi sulit sekali memilih siapa yang berhak menjawab dan mendapat hadiah karena puluhan tangan langsung teracung saat pertanyaan diberikan, termasuk tangan si lutung. Setelah 4-5 pertanyaan berhasil dijawab, saatnya bagi tim mobil baca untuk berkemas. Tak lupa semuanya berfoto bersama si lutung sebelum pulang dengan membawa pengetahuan baru tentang alam.

yang tua yang muda tak mau ketinggalan

Melestarikan alam memang tidak harus selalu dilakukan secara langsung. Salah satu hal terpenting untuk mewujudkan lingkungan yang lestari adalah dengan membangun pola pikir yang menghormati alam. Dengan mendidik anak-anak untuk menghargai alam dan seisinya, diharapkan mereka akan tumbuh menjadi orang-orang yang peduli pada lingkungan, menyebarkan pemahaman itu pada orang-orang di sekitar mereka, dan menciptakan lingkungan yang lebih baik di masa depan.

Disadur dari swastimukti.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: